“Apa yang membawamu kemari Nona?” Socrates memulai percakapan dengan sebuah tanya. Harus kupoles bagaimana jawabanku agar terdengar bagus di telinganya. Ini Socrates loh yang sedang bertanya.
“Sebuah kegalauan”, tak puas dengan jawabanku, aku pun melanjutkan. “Akhir-akhir ini, banyak kujumpai orang yang lupa caranya bahagia. Ada yang sibuk patah hati, ada yang bersedih karena tenaga medis tak diberi perlindungan diri yang sesuai SOP, ada yang gelisah tak kebagian masker dan hand sanitizer, ada yang menggerutu karena tugas kuliah online, dan ada juga yang sibuk menyalahkan dan mendesak pemerintah untuk mengambil kebijakan yang tepat dengan segara. Kau tau kasus pandemik ini kan, Socrates? Semuanya sedang dirundung kecemasan.”
Sebelum memutuskan untuk berbicara, Socrates memberiku kopi. Aku ingin menolaknya sebab aku tidak begitu menyukai kopi, apalagi jika masih pagi begini. Tapi aduh, bagaimana cara menolak Socrates? Ini Socrates loh yang sedang menawarkan.
Ah iya, aku lupa. Sebegitu terpesonanyakah aku pada pembawannya?
“Socrates, bagaimana cara mengingatkan mereka untuk kembali bahagia?” Hastag jangan lupa bahagia tidak begitu efektif dan sekarang sedang kalah tranding dengan hastag dirumah aja.
“Kamu menggemaskan”
Astaga! Socrates bilang apa?
“Apa kamu sendiri sudah bahagia?”
Aku terdiam. Kenapa mesti bingung jika jawabannya adalah iya. Tapi apa memang iya? Lalu untuk apa aku sampai ada di sini jika sudah bahagia? Maksudku, jika memang aku sudah bahagia kenapa tidak kuberitahukan saja hal-hal yang bisa membuat orang juga bahagia. Tapi bukannya bahagianya setiap orang beda-beda? Aku mungkin bisa saja menjadi bahagia ketika melihat nyamuk yang sedang melintas dan hinggap diatas kulitku sambil berujar “hiyaa puas-puasin dah tuh”. Tapi masa iya kebahagian seperti itu yang harus kusampaikan? Maksudku lagi, untuk setiap jawaban yang berbeda, adakah satu jawaban yang dapat merangkum atau mejadi dasar atas satu pertanyaan itu?
Ck! Aku terlalu lama berpikir sampai lupa Socrates sedang menunggu jawabanku.
Saat kualihkan tatapanku padanya dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Astaga Socrates, jangan begitu. Sikapmu tadi mengingatkanku pada seseorang yang saat ini sedang dalam settingan menyebalkan.
“Jadi begini”, Ia memulai penjelasannya. Sepertinya ini akan berjalan serius.
“Orang yang tahu apa yang benar akan bertindak benar”
“Tap”
“ Aku tahu apa yang ingin kau sanggah. Mendengarlah”. Aku mengangguk tanda mengiyakan.
“Untuk menjadi bahagia, kau hanya perlu mengikuti apa yang kau nilai lebih baik. Jangan bertindak berlawanan. Jangan menentang penilaianmu itu. Bukannya semua orang tentu sangat mudah untuk melakukannya? Tapi terkadang masih banyak saja orang yang bertindak berlawanan dengan penilaian baiknya. Menipu, membuli, menjelek-jelekkan orang lain atau bahkan diri sendiri. Apakah mereka bahagia? Tentu saja tidak.”
“Jadi, jangan bertindak berlawanan dengan apa yang kita nilai lebih baik, ya?” aku mengangguk-anggukan kepala. “Tapi bagaimana caranya untuk membedakan yang baik dan yang buruk, Socrates? Karena apa yang menurutku baik, belum tentu baik bagi orang lain. Aku hanya khawatir tindakan untuk membahagiakan diriku malah salah”
“Itu berarti kau belum memahami penjelasanku yang tadi Nona. Ingat, aku menyuruhmu untuk melakukan apa yang kau nilai lebih baik. Kalau masih ada keraguan, kau berarti belum memikirkan tentang yang mana yang paling baik, bukan?”
“Ah, berarti aku harus menempatkan sesuatu yang benar itu pada akalku? Bukan pada masyarakat? Lalu bagaimana jika aku telah menimbang dan memutuskan bahwa inilah yang terbaik kemudian kulakukan dan malahan hasilnya buruk untuk yang lain. Yang awalnya aku ingin bahagia malah berakhir menyedihkan”
“Itulah makna dibalik kalimat ‘selalu ada yang bisa dipelajari dari setiap keputusan yang kita ambil’. Jangan bersedih, bahagialah sebab telah menemukan pemikiran yang lebih baik lagi. ”
Aku tersenyum haru. Senang sekali mendengar penjelasan dari Socrates. Dia betul-betul tidak menggurui. Tapi mencerahkan. Membantu menemukan apa yang tersimpan dalam diri.
“Jadi Nona, apa kesimpulanmu?”
“Untuk menjadi bahagia, kita harus bertindak sesuai dengan hati nurani dan penting untuk selalu belajar. Sebab hati nurani akan menuntun pada tindakan yang baik dan proses belajar akan membawa kita pada pemikiran yang terus tumbuh”
Dan sekarang dialah yang tersenyum.
“Socrates, terima kasih untuk kopinya”
Komentar
Posting Komentar